KEAJAIBAN 3M DARI ORANG TUA KEPADA BUAH HATI

Apel Pagi, Kasi PD Pontren : Kontingen Porsadin Kabupaten Karawang Sabet Medali Emas
Agustus 1, 2022
Tahun Ajaran Baru Lebih Seru di MTs Annihayah
Agustus 3, 2022

Oleh : Sri Silvia Nurma Latifah, Guru MTs S Annihayah Rawamerta

Layaknya sebuah lembaga atau organisasi besar, keluarga seharusnya juga memiliki Visi dan Misi yang jelas sekaligus terarah. Tentu berawal dari hal inilah, keluarga akan mampu menjadi tombak peradaban yang  nyata. Menanamkan benih-benih kebaikkan dan manfa’at yang tertanam pada hati sanubari sang buah hati. Untuk itu penting kiranya sebagai orang tua mempunyai trik jitu yang bermutu sebagai modal kekuatan, ketahanan plus konsep diri bagi buah hati untuk masa depannya kelak. Bahkan bukan hanya masa depannya didunia melainkan juga masa depan yang sesungguhnya yakni akhirat. Ayah bunda, sedikit berbagi saya merumuskannya dalam 3M.

M yang pertama yakni Mendo’akan. Do’a orang tua khususnya ibu mampu menembus langit. Ini menunjukkan posisi orang tua begitu mulianya, do’a yang sangat mustajab, do’a yang tidak diragukan lagi. Yakni  tidak lain adalah do’a dari orang tua, dari ayah bunda, khususnya dari dirimu wahai ibu. Sudahkah, seringkah, berapa banyakkah kita mendo’kan buah hati. Lisan orang tua ibarat tabungan bagi buah hati dan tentu bagi orang tua itu sendiri. Saat lisan mengucapkan kalimat-kalimat bahkan do’a-do’a kebaikkan, maka hal positif akan senantiasa buah hati kita dapatkan dikemudian hari, bak hadiah yang mereka mimpikan. Begitupun sebaliknya, jika kata-kata kasar dan kebencian yang mereka dapat dari lisan orang tua, maka kebaikkan pun akan sulit merapat pada buah hati kita. Maka setiap kali mengingat mereka, memandang wajahnya, hendaknya ayah bunda  bacakan surotul Fatihah untuknya. Pun agar tenang jiwanya seringlah bacakan sholawat.  Satu dari banyak kalam-kalam Allah tentang do’a orang tua pada anandanya:

“ Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”  [ AL-FURQON : 74 ]

Atau mungkin, dikala mereka sedang terlelap tidur ayah bunda dapat mengelus dan mencium keningnya seraya mendoakan mereka:

“ Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang shalih”. [ AS-SAFFAT : 100 ]

Dan apresiasi orang tua pada sang buah hati yang pertama dan yang utama adalah do’a. Agar kebaikkan mengalir padanya juga pada kita selaku orang tua.

M yang kedua yakni Mendukung. Mendidik dengan hati, memeluk dengan qolbu, berikan buah hati pelukan yang erat, heart to heart. Hal semacam ini akan mengalirkan hawa sejuk pada hati sanubari buah hati. Inilah langkah awal dan kontinue peran orang tua dalam mendukung putra putrinya. Bahkan jika orang tua tidak sedang berada tepat didekatnya. Tapi mereka tetap merasakan keberadaan, kasih sayang juga dukungan kita sebagai orang tua. Karena cinta dan kasih sayang yang senantiasa terus hadir dari orang tua dalam wujud dukungan positif terhadap hal-hal yang juga bernilai positif pada diri dan hati mereka. Bukan hanya sebatas menyekolahkannya saja, bukan berarti mengiyakan apa yang menjadi pilihannya saja, tak selalu melakukan apapun hanya agar dia bahagia karena keinginannya terpenuhi. Juga tak melulu menuruti apa yang menjadi obsesinya, walau kadang bertolak belakang dengan hal-hal yang bermanfaat yang tak sejalan dengan harapan orang tua. Karena dukungan tak hanya berupa semangat saat ananda berjuang meraih mimpi-mimpinya. Namun, dukungan bisa berupa nasehat pengingat saat ia lalai dan lupa lalu berbelok dijalan kebaikkan. Misalnya saja, betapa sibuknya ia mengikuti kegiatan demi kegiatan di sekolahnya, atau bahkan saking asyik menikmati serangkaian les yang ia tekuni, sampai melupakan kesehatannya, bahkan sampai melupakan kewajibannya terhadap Tuhannya yaitu beribadah. Disinilah peran serta dukungan orang tua harus selalu ada dan nyata, jangan sampai orang tua menganggap hal seperti ini adalah hal yang biasa, hingga merasa  dikemudian hari menjadi sia-sia. Dalam hal ini jangan sampai ada pembiaran atau sikap apatis orang tua terhadap anandanya. Jangan sampai, ah, yang penting kan mereka sudah saya sekolahkan disekolah yang bagus, sekolah yang berkualitas, sekolah unggulan. Yang penting mereka ada, nyaman. Ayah bunda, Pendidikan dan pola mendidik itu harus ada progress atau capaian dan itu tidak cukup menggantungkan pada faktor-faktor dari luar saja, tapi tetap ujung tombak keberhasilan mereka ada pada hati, lisan, ikhtiar juga tentu untaian-untaian do’a disetiap waktu dari kita pada mereka. Mendukung buah hati adalah kebaikkan juga selalu mengarahkan pada kebaikkan dan mengingatkan mereka pada saat menjauh dari kebaikkan.      

M yang terakhir yakni Memfasilitasi. Fasilitas memang bagian dari dukungan orang tua pada buah hati. Tetapi bentuk dukungan yang satu ini tidak cukup dengan keinginan dan harapan orang tua yang terbungkus hanya sekedar kata, melainkan butuh action atau tindakan nyata. Dalam hal ini, tentu orang tua juga tetap harus mengedepankan cermat dan bijak dalam pemenuhannya. Orang tua tentu harus faham apa yang perlu dan tidak perlu dipenuhi bagi buah hati. Apa yang harus dan tidak harus dilakukan bagi kebaikkan buah hati. Fasilitas yang diberikan harus sesuai kebutuhan, kemauan juga kemampuan, minat sekaligus bakat mereka. Bukan hanya sebatas keinginan mereka semata, terlebih lagi selalu harus sesuai dengan keinginan orang tua. Jika bicara fasilitas yang diberikan orang tua pada anandanya, bagi orang tua tentu harus fahami lebih dulu minat, kebutuhan mereka lalu tetap sesuaikan dengan kemampuan kita sebagai orang tua. Jangan pernah paksakan kemampuan kita pada mereka, hanya karena ingin memfasilitasi dan memberikan yang terbaik. Yang pada akhirnya bukan mendidik, tapi justru membentuk pribadi ananda tidak baik. Atau bahkan ada model orang tua yang pada dasarnya mampu memfasilitasi media belajar buah hati, tetapi lebih memilih memenuhi hal-hal lain diluar kewajibannya terhadap buah hatinya, ini sungguh membuat miris dan tentu akan melukai jiwa mereka. Setiap anak itu unik, memiliki firahnya sendiri. Ridho pada apa yang mereka miliki dan mampu lakukan, bukan banyak mengeluh pada ketidak mampuan mereka. Fokus pada kelebihannya, bukan pada keterbatasannya dalam beberapa hal. Jika ingin mereka baik, maka didik dan fasilitasi dengan berbagai metode dan media yang baik pula. Misal, jika ingin mereka pandai membaca Al Quran, maka ayah bundalah yang harus pertama mengajarkan huruf-huruf dan bacaan Al Quran.  Kemudian cari dan masukkan sekolah yang dapat menjadi partner untuk hal tersebut. Singkatnya, jika ingin mereka pandai membaca, maka berilah buku. Jika ingin mereka pandai menulis, fasilitasi dengan pensil dan buku tulis. Sekali lagi ingat ayah bunda, dalam hal memfasilitasi kenali dan fahami minat bakat mereka, bukan hanya mengedepankan keinginan kita. Contoh lain, kemampuan dan minatnya pada bidang olahraga, seni atau yang lainnya maka kita pun harus memfasilitasi dengan lapang dada pada apa yang ingin mereka tekuni. Tentunya dengan diikuti arahan dan pijakan yang senantiasa menjadi tuntunan bagi mereka, bukan hanya sebatas dalam bentuk memfasilitasinya saja, setelah itu selesai tanpa makna. Atau dalam hal ini, berkaitan dengan gaya belajar buah hati yang berbeda, Visual, Auditori atau kinestetik. Jadi orang tua juga harus memfasilitasi media belajar di rumah sesuai dengan gaya belajar mereka, kemudian cari partner mendidik agar gaya belajarnya tersebut menjadi life skill mumpuni dikemudian hari. Ibaratnya, jangan paksa ikan agar bisa terbang, pun jangan paksa burung untuk bisa berenang, juga jangan  paksa kucing supaya bisa mengaum. Jangan paksa buah hati kita menjadi apa yang kita inginkan. Karena yang paling menyedihkan, mereka akan kehilangan jati diri dan ini bahaya. Bisa saja mereka diajarkan, bahkan dipaksakan, dengan dipenuhinya fasilitas luar biasa oleh kita sebagai orang tua, tapi tentu ini tidak baik untuk pertumbuhan serta perkembangannya. Berikan dan fasilitasi buah hati sesuai kemampuan orang tua dan sesuaikan  juga dengan kemampuan Ananda.

Kewajiban orang tua adalah memberikan dan melakukan yang terbaik bagi buah hati. Sesuai dengan apa yang kita miliki dan mampu lakukan. Selebihnya, Allah yang akan menerangkan hati mereka melalui jembatan do’a-do’a kita sebagai orang tua. Dan Allah jualah yang akan senantiasa menuntun mereka lewat ikhtiar-ikhtiar tanpa batas orang tua.

1 Comment

  1. Ahmad HAidar berkata:

    Assalaamu’alaikum wr. wb.
    Terima kasih tulisannya sangat bermanfaat merupakan sebuah masukan yang sangat berarti bagi kami selaku orang tua yang menginginkan anak” kami menjadi generasia penerus yang bertanggung jawab terhadap dirinya, masa depannya serta lingkungannya baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi Kami